Selasa, 18 Agustus 2015

PAPER "TIKTOK"

PAPER
“PENGENALAN TIKTOK”


UNIVET


Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Ilmu Ternak Unggas II


Oleh :
FEBRI WIJANGKORO                  1350500005



PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO
2015


A.    PENGERTIAN TIKTOK
Mule duck atau lebih dikenal dengan sebutan Tiktok/ itik serati merupakan hasil persilangan antara itik betina (Anas plathyrynchos ) dengan entok jantan (Cairina moschata ). Perkawinan antara itik dan entok bukan sesuatu yang aneh lagi,karena di alam sudah sering terjadi. Jumlah kromosom yang sama memungkinkan terjadinya pembuahan pada perkawinan tersebut, namun itu kadang sangat mustahil , karena perbedaan bobot badan entok jantan yang lebih besar dibandingkan dengan itik betina sehingga diperlukan teknologi alternatif yaitu dengan Inseminasi Buatan (IB ). Menurut Marie Etancelin,et al,2008 menerangkan bahwa persilangan antara itik betina (Anas plathyrynchos ) dengan entok jantan ( Cairina moschata) bertujuan untuk mendapatkan itik persilangan   yang baik, dengan memanfaatkan heritabilitas dan korelasi genetik yang berhubungan erat dengan produksi. Akibat percampuran genetik dari itik dan entok timbulnya heterosis yaitu penampilan karakter yang berbeda dengan rata – rata dari kedua tetuanya. Karakteristik itik serati umumnya hampir menyerupai entok,yaitu memiliki tubuh besar,tenang,dapat berenang,tetapi tidak dapat terbang (Harahap 1993;Dharma et al.2001; Sari 2002

B.     ALASAN TIKTOK SEBAGAI ITIK PENGHASIL DAGING POTENSIAL
Daging itik yang banyak di konsumsi masyarakat dan beredar di pasaran umumnya bersumber dari itik betina yang tidak produktif atau afkir, itik jantan muda sebagai itik pedaging, dan itik serati/tiktok. Daging itik betina afkir dan jantan muda kurang disukai masyarakat karena alot dan penampilannya kurang menarik (Harjosworo et al. 2001). Hal ini karena itik petelur mempunyai badan yang langsing dan bobot dagingnya rendah. Selain rasa dan baunya anyir, daging itik betina afkir umumnya keras, warnanya coklat kemerahan (Lukman 1995; Hustiany et al. 2001), dan memiliki serabut otot yang besar (Sudjatinah 1998). Apa lagi dalam pengolahan karkas kurang baik sehingga menyebabkan bau apek dan penampilan yang kurang menarik akibatnya harga daging itik relatif rendah. Bobot hidup itik betina afkir berkisar antara 1,3-1,4 kg dan setelah dipotong hanya menghasilkan karkas 0,9 kg. Itik jantan muda kurang diminati oleh usaha pembesaran itik pedaging karena tidak efisien dalam penggunaan pakan. Untuk mencapai bobot hidup 1,1 kg diperlukan waktu sekitar 10 minggu dengan konversi pakan bervariasi antara 4,19-6,02 (Sinurat et al. 1993; Iskandar et al. 1995).
Tiktok (mule duck) merupakan hasil persilangan antara entok jantan (Cairina moschata)  dengan itik betina (Anas platyrhynchos). Perkawinan kedua spesies tersebut masih dimungkinkan, namun terbatas sampai hibrida saja dan tidak dapat dibentuk sebagai rumpun baru. Jika perkawinan antara itik jantan dan entok betina maka anak tiktok yang dihasilkan bersifat infertil (mandul). Sehingga bibit tiktok dihasilkan dengan sistem IB (Inseminasi Buatan) atau dikenal dengan kawin suntik. Itik serati (mule duck) merupakan sumber daging yang potensial. Penyilangan antara entok dan itik ini merupakan suatu upaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas daging itik di Indonesia (Setioko 2003b; Prasetyo et al. 2005). Itik serati merupakan sumber daging yang diminati oleh konsumen sehingga perlu dikembangkan dalam skala usaha besar.

C.    BIBIT TIKTOK
Pengadaan bibit merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha pembesaran tiktok. DOT yang baik harus sehat dan baik yang dicirikan oleh : tubuh tegap, gesit dan lincah; kaki kokoh, fisik tidak cacat dan nafsu makan tinggi. Ada beberapa sumber bibit yang dapat dijadikan sebagai galur induk tiktok. Pembuatan galur itik betina dasar pemeliharaanya berasal dari itik lokal seperti Mojosari, alabio, tegal dll karena mempunyai produksi telur yang tinggi  dan pertumbuhan yang cepat serta mampu beradaptasi dengan lingkungan serta masa puncak produksi yang relatif lama. Sedangkan pejantan yang di buat galur adalah entok yang akan diambil Spermanya untuk kebutuhan kawin suntik dengan induk itik lokal. Dengan dasar pemeliharaanya karena entok jantan memiliki performance (bentuk badan) yang besar saat dewasa,pertumbuhan cepat,warna bulu lebih banyak putih. Pertumbuhan  serta daya kawin tinggi ( tidak mandul). Anak tiktok yang baru lahir memiliki bobot badan 26 – 53 gram (rataan 40,03 g). Selain dengan penetasan, bibit tiktok juga dapat diperoleh dari Balitnak Ciawi-Bogor atau tempat pembibitan lainnya. Harga bibit (DOT) adalah kisaran Rp. 5.500,-/ekor.


D.    REPRODUKSI TIKTOK
1.      Alat reproduksi itik/entog jantan
Ternak Itik atau Entog jantan mempunyai sepasang testis yang berbentuk silindris terletak di rongga badan menempel pada dinding punggung bagian belakang. Alat genitalia pada itik atau entog jantan tidak berkembang dan hanya berupa phallus dan tidak memiliki jaringan otot seperti pada mamalia. Sepanjang organ ini terdapat saluran yang disebut ejaculatory grove dan berpangkal di bagian coprodaeum pada kloaca sampai ke ujung penis.
            
Gambar 1. Alat reproduksi jantan (Sumber Sri Gandono,1986)
2.      Alat Reproduksi Itik /entog Betina
Seperti halnya pada ayam, alat reproduksi itik betina terdiri dari dua bagian besar yaitu ovarium dan oviduct. Walaupun ada sepasang ovarium dan oviduct, namun hanya bagian kiri yang berfungsi sedangkan yang kanan mengalami rudimenter. Ovarium pada itik merupakan kumpulan kuning telur (yolk) berbagai ukuran mulai dari yang kecil berdiameter 0,5 mm sampai yang besar menyerupai kuning telur. Bagian oviduct merupakan bagian penting pada proses IB dan terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus, uterus dan vagina. Dalam proses inseminasi sebagian besar spermatozoa tersimpan dalam lipatan-lipatan antara uterus dan vagina, dengan suatu proses yang belum diketahui. Perjalanan spermatozoa ini mungkin terjadi setiap kurun waktu tertentu pada saat oviduct dalam keadaan kosong. Untuk itu perlu diketahui jumlah spermatozoa optimal yang harus diinseminasikan agar diperoleh angka fertilitas yang baik.  Selain itu ke dalaman inseminasi perlu diperhatikan agar spermatozoa dapat disimpan di dalam saluran antara uterus dan vagina dalam jumlah besar.
          
Keterangan:a.Ovarium,b.infundibulum,c.magnum,  d.isthmus, e. uterus, f. vagina.
Gambar 2.  Alat reproduksi betina (Sumber Sri Gandono,1986)

E.     TEKNIK INSEMINASI BUATAN PADA ITIK
Sistem produksi dengan memanfaatkan proses perkawinan silang melalui program inseminasi buatan, tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan produksi telur tetas yang memiliki daya tetas tinggi (fertil) di samping produksi telur yang banyak tentunya.
Adapapun tujuan teknik inseminasi buatan pada itik adalah seperti berikut :
·         Pemulihan ternak terutama dalam pengembangan galur-galur baru
·         Penyelidikan tentang permasalahan fertilitas jantan dan betina
·         Pemilihan induk pejantan dan betina, baik untuk produksi maupun kualitasnya
·         Efisiensi penggunaan penjantan dalam proses produksi, 1 x ejakulasi dapat membuahi lebih dari satu betina
·         Menanggulangi rendahnya fertilitas akibat kesulitan dalam proses perkawinan alami
·         Pengadaan anakan (day old duck) dalam jumlah lebih banyak serta umur yang seragam
Bahan dan Peralatan IB
ü  Aspirator (pengisap) yang dihubungkan dengan termos kecil sebagai tempat pengumpul semen pada itik sedangkan pada ayam, langsung ditampung dalam tabung
ü  Alat suntik tanpa jarum (tuberculin syriage)
ü  Bahan pengencer aquades dan larutan fisiologis 0.85 % atau cairan infus
ü  Rasio pengenceran sperma adalah 1 : 10 untuk itik dan 1 : 4 untuk ayam
Dengan memperhatikan keuntungan dalam beternak itik serati atau itik mule  maka sudah layaknya itik ini menjadi sebuah pilihan yang  perlu diupayakan  dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak itik lebih khusus usaha peternakan itik pedaging yang berkualitas, biaya produksi rendah, memiliki harga yang cukup baik di pasaran serta mudah dilakukan oleh peternak pada umumnya.

F.     KEUNGGULAN TIKTOK
Tiktok memiliki beberapa keunggulan, yaitu pertumbuhannya cepat, mampu mengubah pakan berkualitas rendah menjadi daging (Hutabarat 1982; Zulkarnain 1992; Hardjosworo dan Rukmiasih 2000), tahan terhadap penyakit, mortalitasnya rendah 2−5% (Dijaya 2003; Anwar 2005), serta dagingnya tebal, berwarna coklat muda, tekstur lembut dan bercita rasa gurih (Harahap 1993; Srigandono 2000; Dwi-Putro 2003; Setioko 2003; Bakrie et al. 2005; Suparyanto 2005).
Bobot badan tiktok jantan umur 12 minggu mencapai 1,92 kg, sedangkan betina 1,91 kg/ekor dengan proporsi karkas rata-rata masing-masing 63,23% dan 72,64% (Dwi-Putro 2003; Suparyanto 2005). Srigandono (2000) dan Dijaya (2003) mengemukakan, tiktok umur 10 minggu memiliki bobot badan 2,20−2,50 kg/ekor, dan pada umur 12 minggu bobot badannya berkisar antara 2,50−3 kg. Wasito dan Rohaeni (1994) melaporkan, bobot badan tiktok betina umur 10 minggu mencapai 2,40 kg, dan itik jantan umur 12 minggu bobot badannya sekitar 4,30 kg, konversi pakan 2,70, dan persentase karkas rata-rata 65−70%. Sementara bobot karkas tiktok umur 8 dan10 minggu masing- masing mencapai 1,36 kg dan 1,14 kg/ekor (Zulkarnain 1992; Roesdiyanto dan Purwantini 2001; Laksono 2003). Karakteristik tiktok umumnya hampir menyerupai entok, yaitu memiliki tubuh besar, tenang, dapat berenang, tetapi tidak dapat terbang (Harahap 1993; Dharma et al. 2001; Sari 2002).

G.    PAKAN TIKTOK
Berikut adalah contoh tabel formulasi pakan tiktok berdasarkan umur
tabel contoh formulasi pakan tiktok
umur itik
bahan pakan %
0-3 minggu
4-10 minggu
Jagung
57,1
69,2
bungkil kedelai
22,8
15
pollard
4
9
tepung ikan
4
3
minyak goreng
3,4
0,5
garam
0,4
0,4
kapur
1,1
1
premiks
0,5
0,5
metionin
1,1
0,1
lisin
0,1
0,1
perhitungan zat nutrien
protein kasar
18,74
15,5
energi metabolis (kkal/kg )
2.908
2.902
kalsium
0,9
0,9
P-tersedia
0,37
0,37
metionin
0,69
0,57
lisin
1,13
0,88





Sumber : Chen (1996 )
Kunci keberhasilan pemeliharaan tiktok secara intensif adalah kualitas dan kuantitas pakan. Untuk pemeliharaan tiktok selama 7 minggu, biaya pakan mencapai 70% dari biaya produksi (Uhi et al. 2004) pakan tiktok umur 0−3 minggu harus mengandung protein kasar 18,74% dan energi metabolis 2.908 kkal/kg, sedangkan itik umur 4−10 minggu memerlukan energi metabolis 2.902 kkal/kg dan protein kasar 15,50%. Kebutuhan pakan itik serati sampai umur 10 minggu sebesar 1,20 kg/ minggu (Simanjuntak 2002).












DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Diakses pada http://www.ditjennak.co.id. Hari Minggu, 8 Maret 2015.