Selasa, 18 Agustus 2015

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI LINGKUNGAN SAPI PERAH 2

BAB I
PENDAHULUAN

3.1.     Latar Belakang
Sapi peranakan Fries Holland (PFH) merupakan salah satu jenis sapi perah yang dapat beradaptasi di Indonesia yang merupakan negara tropis. Sapi PFH dapat beradaptasi di negara tropis karena  merupakan hasil persilangan antara sapi asli Belanda dengan sapi lokal Indonesia. Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki dua musim yaitu kemarau dan penghujan. Keadaan iklim di indonesia yang tidak menentu membuat sapi perah PFH harus menyesuaikan dengan kondisi iklim tersebut, sehingga berdampak pada fisiologi ternak dan produktivitasnya. Produktivitas sapi PFH sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis ternak, fisiologi lingkungan, fisiologi ternak dan bentuk ambing.  Seleksi sapi perah sangat dibutuhkan untuk mengetahui sapi yang dapat memproduksi susu dalam jumlah yang tinggi yaitu melalui recording .
3.2.     Tujuan Praktikum
Tujuan dari pengamatan pada ternak sapi perah ini bertujuan untuk :
a.       Mengetahui suhu lingkungan pada ternak sapi perah.
b.      Mengetahui suhu rektal pada ternak sapi perah.
c.       Mengetahui denyut nadi pada ternak sapi perah.
d.      Mengetahui recording pada ternak sapi perah.
e.       Dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat saat memelihara sapi perah dengan memperhatikan recording dan fisiologi lingkungan.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Sapi Peranakan Fries Holland (PFH)
Sapi Peranakan Fries Holland (PFH) merupakan persilangan antara sapi Friesian Holstein (FH) dengan sapi lokal yang ada di Indonesia. Ciri-ciri sapi PFH antara lain kulit berwarna belang-belang hitam dan putih, ekor berwarna putih, terdapat warna putih berbentuk segitiga di dahi, kepalanya panjang, sempit dan lurus, tanduk mengarah ke depan membengkok ke dalam, mempunyai kemampuan menghasilkan air susu lebih banyak daripada bangsa sapi perah lainnya yaitu mencapai 5982/liter/laktasi (Santosa et al., 2013). Bobot badan sapi PFH dewasa yang baik umumnya sekitar 350 – 400 kg (Sudono et al., 2003).
2.2.  Fisiologi Lingkungan
2.2.1.      Suhu udara
Suhu udara sangat mempengaruhi produktivitas sapi perah. Apabila sapi PFH ditempatkan pada lokasi yang memiliki suhu tinggi, maka sapi-sapi tersebut akan mengalami cekaman panas terus menerus yang berakibat pada menurunnya produktivitas sapi PFH (Yani dan Purwanto, 2006). Suhu lingkungan yang sesuai untuk sapi perah adalah 13o C – 25o C (Yani dan Purwanto, 2006). Suhu udara yang sesuai untuk pemeliharaan sapi perah di daerah tropis berkisar antara 18o C – 21o C dan di Indonesia lingkungan tersebut terapat di wilayah dengan ketinggian serendah-rendahnya 500 m dpl (Utomo et al., 2009).
2.3.  Fisiologi Ternak
Fisiologi ternak sapi perah dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama faktor lingkungan. Perubahan lingkungan berupa perubahan suhu, secara langsung akan membuat ternak melakukan penyesuaian secara fisiologis dan tingkah laku (Yani dan Purwanto, 2006). Cekaman panas dapat mempengaruhi rendahnya konsumsi pakan ternak di daerah dataran rendah dapat disebabkan pengaruh cekaman panas yang diderita ternak sehingga untuk mengatasi beban panas dan mempertahankan suhu tubuhnya maka secara fisiologis ternak atau sapi PFH yang mengalami cekaman panas akan menurunkan konsumsi pakan dan meningkatkan konsumsi minum (Catur dan Ihsan, 2011).
2.3.1.      Suhu rektal
Suhu rektal ternak tetap dalam kondisi normal walaupun dalam suhu yang mencekam kemungkinan disebabkan ternak berhasil melakukan proses termoregulasi melalui mekanisme homeostatis di dalam tubuh (Utomo et al., 2009). Pengaturan keseimbangan panas merupakan upaya ternak mempertahankan suhu tubuhnya relatif konstan terhadap perubahan suhu lingkungan yang merupakan perwujudan kerja organ-organ tubuh untuk mempertahankan proses homeostatis (Purwanto et al., 1995). Suhu rektal sapi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu lingkungan, jenis kelamin dan kondisi ternak (Akoso, 2008).
2.3.2.      Frekuensi denyut nadi
Denyut jantung sapi FH yang sehat pada daerah nyaman adalah 60 – 70 kali/menit, reaksi sapi FH terhadap perubahan suhu yang dilihat dari respons pernapasan dan denyut jantung merupakan mekanisme dari tubuh sapi untuk mengurangi atau melepaskan panas yang diterima dari luar tubuh ternak (Yani dan Purwanto, 2006). Denyut nadi dalam keadaan normal merupakan hal yang baik mengingat frekuensi pulsus merupakan mekanisme dari tubuh sapi untuk mengurangi atau melepaskan panas yang diterima dari luar tubuh ternak. frekuensi pulsus merupakan respon dari tubuh ternak untuk menyebarkan panas yang diterima ke dalam organ-organ yang lebih dingin (Sudrajad dan Adiarto, 2011).

2.4.  Recording
Recording adalah segala hal yang berkaitan dengan pencatatan terhadap ternak secara individu yang menunjukkan pertumbuhan dan perkembangannya. Pencatatan yang diperlukan meliputi produksi susu, data reproduksi, dan kesehatan ternak (Nurul et al., 2013). Tujuan utama dari pencatatan adalah untuk memberitahukan suatu informasi yang detail kepada pemilik ternak tentang individu sapi secara lengkap dan menyeluruh (Chrisenta, 2012).















BAB III
MATERI DAN METODE

3.1.     Waktu dan Tempat
Praktikum Ilmu Ternak Perah II dengan materi Fisiologi Lingkungan, Fisiologi Ternak dan Recording dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 20 Mei 2015 pukul 13.30 - 15.00 WIB di Peternakan Sapi Perah Caymerin Jetak, Tegalgede, Karanganyar.
3.2.     Materi Praktikum
a)       Sapi PFH betina berumur + 3 tahun
b)      Termometer tubuh
c)      Termometer ruang
d)     Stetoskop
e)      Stopwatch
f)       Alat Tulis
3.3.     Metode Praktikum
a.       Mengukur suhu lingkungan
·         Mengenolkan skala termometer dengan cara dikibas–kibaskan dengan hati – hati (awas jangan sampai pecah).
·         Digantungkan pada kandang selama + 10 menit.
·         Mengamati skala pada termometer dan catat hasilnya.
b.      Mengukur suhu tubuh
·         Mengenolkan skala termometer dengan cara dikibas–kibaskan dengan hati – hati (awas jangan sampai pecah).
·         Memasukkan termometer ke dalam rectum hewan percobaan selama ±5 menit.
·         Mengamati skala pada termometer dan catat hasilnya.
c.       Mengukur denyut nadi
·         Menenangkan terlebih dahulu hewan percobaan tersebut.
·         Menggunakan stetoskop dan mengarahkan pada bagian kiri depan bawah (belakang kaki kiri yang depan).
·         Mendengarkan dengan cermat dan menghitung banyaknya detakan jantung pada hewan percobaan selama 1 menit.
d.      Recording
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah dengan cara melihat kartu recording sesuai dengan nomor identitas sapi perah, melihat catatan ternak yang ada di kartu recording dan membandingkan dengan aspek recording yaitu identifikasi ternak, reproduksi sapi perah, kebuntingan dan partus sapi perah, produksi susu dan mengevaluasi aspek-aspek recording.

































BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.     Suhu Lingkungan
Berdasarkan hasil pengamatan suhu dalam kandang yang diperoleh pada saat praktikum adalah 29o C. Hasil tersebut menunjukkan bahwa suhu lingkungan terlalu tinggi untuk pemeliharaan sapi perah. Daerah tropis mendapatkan sinar matahari lebih banyak dibandingkan daerah subtropis serta terletak di bagian tengah bumi dan dilewati oleh garis lintang 0° (khatulistiwa) sehingga suhu lingkungan tinggi. Suhu lingkungan yang sesuai untuk sapi perah adalah 13o C – 25o C (Yani dan Purwanto, 2009) atau 18o C 21o C (wilayah dengan ketinggian ≥ 500 m dpl) (Utomo et al., 2009). Suhu udara yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi kenyamanan dan menurunkan produktivitas sapi perah. Yani dan Purwanto (2006) menyatakan bahwa apabila sapi PFH ditempatkan pada lokasi dengan suhu tinggi, maka sapi-sapi tersebut akan mengalami cekaman panas terus menerus yang berakibat pada penurunan produktivitas.
4.2.     Suhu Rektal
Perhitungan suhu rektal yang dilakukan pada pengamatan kedua menyatakan suhu tubuh pada ternak sapi PFH ialah 39,50 C. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa suhu tubuh sapi PFH yang diamati berada diatas normal, yaitu menurut pendapat Santosa (2004) yang menyatakan bahwa kisaran tubuh normal pada sapi adalah 370 C sampai 390 C. Keadaan normal suhu tubuh ternak sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim, panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum.
4.3.     Frekuensi Denyut Nadi
Pengamatan ketiga, perhitungan denyut nadi yang menyatakan denyut nadi pada ternak sapi PFH ialah 92. Pengamatan denyut jantung ini tidak sesuai dengan denyut jantung sapi normal yaitu berkisar antara 50-60 kali setiap menit (Akoso, 1996), yang per 5 menitnya berkisar sekitar 250-300. Hal ini disebabkan kondisi sapi saat diamati, sapi yang panik saat diamati denyut jantungnya berbeda dengan sapi yang tenang saat diamati. Kondisi lingkungan juga dapat mempengaruhi banyaknya denyut jantung pada sapi.
Frekuensi denyut nadi bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu lingkungan. Disebutkan pula bahwa hewan muda mempunyai denyut nadi yang lebih frekuen daripada hewan tua. Suhu lingkungan yang tinggi, denyut nadi meningkat. Peningkatan ini berhubungan dengan peningkatan respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga dibutuhkan darah lebih banyak untuk mensuplai O2 dan nutrient melalui peningkatan aliran darah dengan jalan peningkatan denyut nadi, bila terjadi cekaman panas akibat temperatur lingkungan yang tinggi maka frekuensi pulsus ternak akan meningkat, hal ini berhubungan dengan peningkatan frekuensi respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga memepercepat pemompaan darah ke permukaan tubuh dan selanjutnya akan terjadi pelepasan panas tubuh.
4.4.     Recording
Berdasarkan hasil praktikum didapat data bahwa ternak sapi PFH betina no sapi GF390 lahir pada tanggal 13 Juli 2012 dengan induk sapi FH dengan no 584 dari Greenfill. Sapi PFH GF390 sekarang ini telah beranak 1 kali dengan anak simental, dan saat ini telah diinseminasi terakhir dengan straw AL 149N ENGINEER 60980 pada 18 April 2015. Untuk produksi susu sapi GF390 pada 6 bulan terakhir rata-rata untuk 1 bulan yaitu berturut-turut 11,6 lt, 16 lt, 14,4 lt, 14,1 lt, 13 lt, dan 11,8 lt. Dalam pencatatan recording pada Caymerin yang masih kurang yaitu pada recording kesehatan ternak. Seharusnya recording yang baik meliputi produksi susu, data reproduksi dan kesehatan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurul et al. (2013) yang menyatakan bahwa pencatatan yang diperlukan meliputi produksi susu, data reproduksi dan kesehatan ternak.






















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.     Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa fisiologi lingkungan dapat mempengaruhi fisiologi ternak sapi perah terutama suhu tubuhnya. Frekuensi denyut nadi bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu lingkungan.
5.2.     Saran
Sebaiknya pada recording sapi PFH dilakukan pencatatan agar jelas penyakit yang diderita ternak dan lainnya karena informasi yang diperoleh kurang lengkap.

























DAFTAR PUSTAKA

Frandson. R.D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogjakarta.
Habibah. 2004. Tampilan Produksi Susu dan Fisiologis Tubuh Akibat Perbedaan Tinggi Tempat dan Bulan Laktasi pada Sapi Perah Friesian Holstein. Universitas Diponegoro, Semarang. (Tesis)
Mardalena. 2008. Pengaruh waktu pemerahan dan tingkat laktasi terhadap kualitas susu sapi perah Peranakan Fries Holstein. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan, XI (3).
Mukhtar, A. 2006. Ilmu Produksi Ternak Perah. Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS; Surakarta.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Jakarta: PT Gramedia.
Santosa, Undang. 2009. Mengelola Peternakan Sapi secara Profesional. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sientje. 2003. Stres Panas Pada Sapi Perah Laktasi. IPB, Bogor.
Sudrajad, P. dan Adiarto. 2011. Pengaruh stres panas terhadap performa produksi susu sapi Friesian Holstein di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul sapi perah Baturraden. Falkutas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Jogjakarta.
Yani, A. dan B. P. Purwanto. 2006. Pengaruh iklim mikro terhadap respons fisiologis sapi peranakan Fries Holland dan modifikasi lingkungan untuk meningkatkan produktivitasnya. Media Peternakan.